PERAWATAN LUKA MENGGUNAKAN HYDROPHOBIC DRESSING TANPA SALEP MEMPERCEPAT PENYEMBUHAN LUKA INFEKSI
DOI:
https://doi.org/10.55129/jnerscommunity.v3i2.10Abstract
ABSTRAK
ÂÂÂÂ
Perawatan luka adalah penggantian sel yang rusak atau mati dengan sel baru. Teknik perawatan luka dengan menggunakan teknik hidrofobik atau tenik perawatan yang mempertahankan area luka tetap lembab. Prinsip membersihkan luka adalah menghilangkan nanah, bakteri, dan jamur saat mengganti perban. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh perawatan luka dengan menggunakan teknik hidrofobik tanpa salep terhadap kecepatan penyembuhan luka infeksi.
Desain penelitian ini adalah pra-eksperimen. Populasi adalah semua klien luka infeksi pada Dahlia, bangsal bedah RSUD Ibnu Sina Gresik. Sampel terdiri dari 19 responden dengan teknik purposive sampling yang sesuai dengan kriteria inklusi. Variabel independen adalah perawatan luka menggunakan teknik hidrofobik tanpa salep, dan variabel tergantung adalah kecepatan penyembuhan luka infeksi. Pengumpulan data dengan observasi mulai hari kedua sampai hari ke-14 satu kali setiap dua hari.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan menggunakan teknik dressing hidrofobik tanpa salep terhadap percepatan penyembuhan luka infeksi. Data dianalisis dengan menggunakan uji statistik wilcoxon dengan tingkat standart r <0,05. Hasil dari uji statistik adalah: dressing hidrofobik: 0,001, tidak ada exudat: 0,001, tidak ada rasa sakit 0,000, ada tanda-tanda merah: 0,000, dan tidak ada edema: 0,000.
Hasil penelitian ini bisa sebagai panduan perawatan luka dengan menggunakan dressing hidrofobik tanpa salep untuk luka infeksi, sehingga membantu mempercepat penyembuhan luka
ÂÂÂÂ
Kata kunci: Perawatan Luka, Dressing hidrofobik, Penyembuhan Luka, Infeksi.
ÂÂÂÂ
ABSTRACT
ÂÂÂÂ
Wound care is replacement of death or broken cells by strength cells and traumatic organs. Wound care technic using hydrophobic dressing no ointment is a care technic ointment less with maintain humidity wound area. In principle, that material can cleaning removed wound, pus, debris, bacterial, fungus when dressing replacement. The purpose of this research is knowing effect of wound care using Hydrophobic Dressing no ointment to wound velocity.
This research design is pre-experiment. The population is all of client wound infection at Dahlia, surgery ward of RSUD Ibnu Sina Gresik. And sample consist of 19 respondent with purpose sampling technic as inclusion criteria. Independent variable is wound care using hydrophobic dressing no ointment, and dependent’s one is infection wound care. Data collection take with observation starting second to 14th day every once in two day.
The research result shows that there is an effect wound care significant using hydrophobic dressing no ointment to period of, degree of healing and infection signs. Data analyzed using wilcoxon rank test statistic with standart level r <0,05. From result number with healing sign are: joint wound care side: 0.001, no exudat: 0.001, no pain 0.000, no red sign: 0.000, no oedema: 0.000.
At this research could be as a wound care manual using hydrophobic dressing no ointment to wound infection, so that help wound healing velocity
ÂÂÂÂ
Keywords : Wound Care, Hydrophobic Dressing, Wound Healing, Infection.
References
A Johnson a Johson. (2005). Wound Closure Manual. Jakarta : Ethicn, hal : 4-12.
Andreas VW. (2006). Curtisorb Sorbact Science Background. Jakarta : Makalah Seminar.
Arikunto, S. (2000). Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Black, JM & Jacob’s, EM. (1997). Medical Surgical Nursing Clinical Management for contuinity of care. Philadelphia : WB. Saunders Company, hal : 426-447.
Brunner & Suddard. (2000). Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8 vol 1. Jakarta : EGC, hal : 489-491.
Candara, B. (1996). Pengantar Statistik Kesehatan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran, hal : 41.
Hipkabi. (2006). Basic Life Support & Basic skill Scrub Nurs. Semarang : Competency Base Training.
Henderson, MA. (1992). Ilmu Bedah Untuk Perawat. Yogyakarta : Yayasan Essensial Medika, hal : 43.
Kozier, B. Et al. (1995). Fundamental of Nursing, Process, and Practise. 4th Edition. California : Addison Wesly Publishing Company, hal : 1359-1367.
Liley dan Aucker. (1999). Pharmacology and The Nursing Process. 2nd Edition. California : Mosby.
Morison & Maya J. (2004). Pedoman Praktis Managemen Luka. Alih Bahasa : Tyasmono. Jakarta : EGC, hal : 1-43.
Nursalam. (2002). Konsep dan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan : Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Nursalam. (2002). Manajemen Keperawatan : Aplikasi Dalam Praktek Keperawatan Profesional. Jakarta : Salemba Medika.
Perdana Kusuma, D. (2007). Science and Technology Wound Management. www.google.co.id. Akses tanggal 11 Oktober jam 14.00 WIB.
Potter&Perry. (1998). Fundamental Keperawatan : Konsep dan Praktik Edisi 4. Jakarta : EGC, hal : 1865.
Suhartono, R. (2006). Perawatan Luka. Denpasar : Makalah Seminar. Dipublikasikan tanggal 17 Oktober.
Sugiono. (2002). Statistik Untuk Penelitian. Bandung : CV. Alfabet, hal : 138-144.
Suradi. (2004). Perawatan Luka Edisi 1. Jakarta : Agung Seto.
Syaifudin, A. (2003). Evaluasi Efek Debridemen Autolitik dengan Menggunakan Zinc Dalam Penyembuhan Luka Bakar. Jakarta : IKABI, hal : 117-122.
Wahjono & Hendra. (2006). Breaking The Chain of Microbial Infection. Semarang : Makalah Seminar. Dipublikasikan tanggal 7 Juli 2006.