Persetujuan Tindakan Medis (Informed Consent)

Authors

  • Ampera Matippanna Badan Pengembangan SDM provinsi Sulawesi Selatan

Keywords:

Persetujuan, Tindakan Medis, Pasien, Penjelasan

Abstract

This study aims to determine the approval of medical treatment including legal basis, procedure, form and type, legal requirements, elements, function, purpose and impact. This study uses qualitative research methods, while the data collection techniques are carried out by exploring journals, books and other information relevant to the study. The results of the study show that the legal basis is strictly regulated in positive laws that apply in Indonesia, including the Medical Law, Hospital Law, Health Law and Health Personnel Law. Then, therapeutic communication procedures in giving consent for action and there is sufficient understanding from the patient or his family regarding the medical action to be carried out along with all possible risks that may occur. Meanwhile, in the form and type, the agreement is divided into two, namely tacit approval and clear approval. The legal requirement for approval of medical action is a unilateral legal act carried out by the patient or his family, but the conditions for its implementation require the involvement of a doctor or the hospital. The elements consist of elements of medical information, elements of providing medical information and elements of giving consent for action. This approval for medical action is held to function as a law that regulates the behavior of doctors and patients in carrying out medical actions. While the purpose is for the benefit of medical action, law, medical ethics and the interests of the administration of health services. The implementation of informed consent in accordance with the procedures and provisions of applicable laws and regulations will have a broad impact on the health care system, especially in the implementation of medical practice where the patient's right to obtain medical information and self-determination is highly respected, so as to prevent the occurrence of malpractice cases.

References

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Opcit Pasal 1330.

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Pasal 330.

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Opcit. Pasal. 1347.

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.Opcit. Pasal 1321.

Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana ( KUHAP). Pasal 184 ayat (1)

Kode etik Kedokteran Indonesia dan Pedoman Pelaksanaannya.Opcit. Cakupan pelaksanaan Pasal 10.

Kode Etik Ruma Sakit (Kodersi) Indonesia dan penjelasannya. 2015. Jakarta. Persi.Pasal 10.

Kode etik kedokteran Indonesia 2012. Jakarta: Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI)

Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004. Opcit. Pasal 45 ayat (1)

Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004. Opcit. Pasal 45 ayat (2)

Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004. Opcit. Pasal 45 ayat (3).

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009. Opcit. Pasal 56 ayat (1).

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2019 Tentang Tenaga Kesehatan.

Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit. Pasal 37 ayat (1)

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290 Tahun 2008. Opcit. Pasal 13 ayat (3)

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290 Tahun 2008. Opcit. Pasal 13 ayat (1)

Peraturan Menteri Kesehatan No. 290 Tahun 2008 Tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran. Pasal 2 ayat (3)

Peraturan Menteri Kesehatan No. 290 Tahun 2008 Tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran. Pasal 9.

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 Tahun 2018 tentang Kewajiban Rumah Sakit dan Kewajiban Pasien.Pasal 5.

Peraturan Menteri Kesehatan No 290 Tahun 2018. Opcit. Pasal 10 ayat (1) sampai ayat (4).

Jurnal

Achadiat M. Chrisdiono, 2007. Dinamika Etika dan Hukum Kedokteran Dalam Tantangan Zaman. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran ECG.hlm 74

Akbar, Ilham. 2016. Akibat Hukum Cacat Kehendak Terkait Hakikat Benda Pada Perjanjian Jual Beli Batu Akik Bongkahan”, Jurnal Hukum dan Pemikiran Syariah, Vol.16 No. 2. Hlm.99.

Chazawi,Adami, 2007. Opcit. Hal. 37-39.

Guwandi,J. 2005. Rahasia Medis. Jakarta: Penerbit Fakultas Kedokteran UI. hlm. 32.

Guwandi,J. 2006. Informed Consent & Informed Refusal. akarta: Fak. Kedokteran UI, hlm. 1

Hanafiah, M. Jusuf dan Amri Amir. 1999. hlm.69

Hanafiah Yusuf dan Amri Amir. Opcit. hlm 74

Isfandyarie, Anny. 2005. Malpraktek dan Resiko Medik… Opcit. hlm. 58

Kant, Immanuel. 1949 Fundamental Principles of the Metaphysics of Morals, Translated by Thomas K. Abbot,New York: The Bobbs-Merrill Co., p. 46

Komalawati, Veronica. 2002. Peranan Informed consent… opcit. hlm.149.

Komalawati.D. Veronica. Hukum Dan Etika Dalam Praktek Kedokteran. Opcit. hlm. 86.

Komalawati, D. Veronica. 2002. Opcit. hlm.149.

Loebby Luqman, Opcit. Hlm.570

Loqman,Loebby.1991.Aspek Hukum Pidana terhadap Informed Consent. Jurnal Hukum dan Pembangunan. Volume 21 (6) hlm. 567-578

Matippanna, Ampera. 2021. Pentingnya memahami informed consent.., Opcit. hlm. 6-7

Matippanna, Ampera. 2021. Pentingnya memahami Informed consent…., Opcit. Hlm. 27-35.

Matippanna, Ampera. Hukum Kesehatan. Opcit. hlm 134.

Prasetya, Sakta Mahadiwya, 2007, Hak Anak Untuk Memperoleh Pendidikan Sebagai Hak Asasi Manusia di Indonesia, Salatiga : FH UKSW, hlm. 83

Satrio, J. 1995. Hukum perikatan, Perikatan yang lahir dari Perjanjian. Bandung: Penerbit Citra AdityaBakti, hlm 164-5

Subekti, R. 2002. Hukum Perjanjian. Jakarta : Intermasa, hlm 40.

Soeroso.R. loc.cit.

Setiono. 2004. Rule of Law. Thesis. Surakarta : Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret. hlm. 3

Tom L. Beauchamp dan James F. Childress. 1983. Principles of Biomedical Ethics,New York. Oxford University. Press, hlm. 70 Buku

DeVito, Joseph A. (2007). The Interpersonal Communication Book.edisi 11. Pearson Educations, Inc. p.5.

Echols, John M dan Hassan Shadily.2003.Kamus Inggris-Indonesia (An English-Indonesian Dictionary).Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Guwandi,J. 2004. Informed consent Consent. Jakarta : FKUI. 2004, Hlm 2

Hadjon, M. Philipus M. 1987. Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia. Surabaya: Bina Ilmu,hlm. 30.

Mardani,2017. Etika Profesi Hukum, Depok: PT Raja Grafindo Persada, hlm. 9.

Muhammad,Abdul Kadir. 2006. Etika Profesi Hukum, Bandung: PT Citra Aditya Bakti, hlm. 77

Mulyana, 2007, Ilmu komunikasi suatu pengantar. Bandung : Remaja Rosdakarya.hlm 81.

Isfandyarie, Anny 2005. Malpraktek dan Resiko Medik dalam Kajian Hukum Pidana. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher. hlm. 57

Ismail,Kamal Fauzie. 2011. Kepastian Hukum Atas Akta Notaries Yang Berkaitan Dengan Pertanahan. Depok : Tesis. Fakultas Hukum Universitas Indonesia, hlm. 2

Ratman,Desriza, 2013. Aspek Hukum Informed Consent Dan Rekam Medis Dalam Transaksi Terapeutik, Bandung: Keni Media, hlm.40.

Salim H.S., 2006. Pengantar Hukum Perdata Tertulis. Jakarta : Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 170.

Setiawan,Rachmat. 1982. Tinjauan Elementer Perbuatan Melanggar Hukum. Bandung : Alumni, hlm. 7

Subekti. R. 2014. Aneka Perjanjian. Bandung: PT Citra Aditya bakti, hlm. 6

Sunggono, Bambang dan Aries Harianto, 2001, Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia. Bandung: Mandar Maju, hlm. 83.

Sutedi, Adrian. 2011. Sertifikat Hak Atas Tanah, Jakarta: Sinar Grafika, hal., 27

Suryani. 2015. Komunikasi Terapeutik :Teori dan Praktik. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.hlm.15.

Suryodiningrat, RM. 1995. Azas-azas Hukum Perikatan. Bandung: Tarsito, hlm. 86

Widjaya,A.W. 1993. Komunikasi: Komunikasi dan Hubungan masyarakat : Jakarta: Bumi Aksara. cet. Ke-2. hlm. 8.

Downloads

Published

2022-11-10

How to Cite

Matippanna, A. (2022). Persetujuan Tindakan Medis (Informed Consent). Jurnal Pro Hukum : Jurnal Penelitian Bidang Hukum Universitas Gresik, 11(4), 218–234. Retrieved from https://journal.unigres.ac.id/index.php/JurnalProHukum/article/view/2151